Rabu, Agustus 22, 2007

Pre-Survey-- The Story



Kegiatan Penelitian Kukang Jawa baru saja melaksanakan kegiatan perdananya. Sebagai langkah awal telah dilakukan kegiatan Pre-Survey ke beberapa lokasi di Kabupaten Tasikmalaya.
Untuk memilih tempat yang akan disurvey tentu tidak sembarang tunjuk tempat lalu pergi ke sana. Ada dasar-dasar pertimbangan yang dijadikan acuan untuk memilih tempat yang disurvey. Dasar pertimbangan awal hanya berpatokan pada ada tidaknya hutan rakyat dan adanya tegal atau perkebunan. Hal ini berdasarkan fakta dan data bahwa memang ditempat-tempat tersebutlah kukang dapat ditemukan. Berikutnya ditambahkan dengan informasi atau keterangan tentang adanya perjumpaan dengan kukang di daerah tersebut.
Diputuskan untuk melakukan survey dilakukan berurut mulai dari daerah yang terjauh dari basecamp Rajapolah. Sebagai langkah awal dipilih kecamatan Cipatujah sebagai starting pointnya.

The journey


Day 1
16 agustus 2007


Hari pertama dimulai dengan urus mengurus surat pengantar ke BKSDA Ciamis. Sudah dapet surat sakti, langsung tancap ke Cipatujah dan baru berhenti di sebuah mesjid untuk melakukan sholat, kemudian dilanjutkan dengan menyusuri sepanjang pantai Cipatujah ke arah timur. Di desa Cidadap kami berhenti dan bertanya kepada beberapa orang yang berada di sebuah warung pinggir jalan yang berada setelah jembatan batas desa Cidadap dengan desa sebelumnya. Dari warung tersebut didapatkan beberapa informasi mengenai keberadaan muka. Menurut Pak Jana seorang guru SD Desa Cipaingen Sodong Hilir menyebutkan bahwa di daerah Pameutingan dan Kertarajasa terdapat Kukang. Karena hari sudah larut, maka perjalanan dihentikan sementara dan kami beristirahat di ‘Saung’ yang menghadap laut di Pantai Cipatujah

Day 2
17 Agustus 2007
MERDEKA!

Perjalanan hari ke dua dilanjutkan menuju Pameutingan, di tengah perjalanan kami berhenti kembali di sebuah warung pinggir jalan untuk bertanya kembali. Di sana didapatkan informasi bahwa di kampung Pameutingan memang ada Kukang. Ternyata jalan yang kami lalui bukan jalan menuju daerah yang kami tuju, Kami pun putar haluan, berbalik arah dan menyusuri jalur sesuai dengan arah yang ditunjukkan orang-orang di warung itu.
Memasuki Desa Pameutingan, kami berhenti untuk bertanya lokasi keberadaan Kukang. Dari salah seorang informan didapat keterangan kurang lebih satu bulan yang lalu ditemukan Kukang di Pohon Kelapa oleh Jajang penduduk Desa Cadasngampar yang saat itu sedang melakukan penyemprotan hama. Informan menceritakan bahwa Jajang digigit oleh Kukang hingga demam. Dari informasi warga pula didapatkan beberapa nama sebutan Kukang yaitu Aeud, Muka geni, Muka Brahma, Muka, dan Oces. Menurut keterangan warga juga, Kukang sering terlihat melintasi kabel listrik dan 2 ekor Kukang pernah tersengat listrik sampai mati. Perjalanan pun kemudian dilanjutkan untuk mencari rumah Jajang. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang berada di sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan Jajang yang kebetulan sedang berada di rumahnya. Jajang menjelaskan bahwa memang benar beberapa minggu kebelakang, tidak lebih dari satu bulan ditemukan Kukang pada siang hari sedang berada di pohon Kawung. Kukang itu kemudian diambil oleh Satim rekan Jajang. Ketika Satim bermaksud mengikat Kukang itu, tiba-tiba Kukang berbalik dan menggigit jari Satim hingga berdarah dan kesakitan. Jajang sempat memukul Kukang tersebut, kemudian dilepaskan di jembatan Citarowek.
Di rumah Jajang tersebut kami bertemu dengan Aep yang menyatakan bahwa sekitar tiga bulan kebelakang Aep juga pernah menemukan Kukang di daerah Sindanglawang di pohon Coklat pada siang hari. Kukang tersebut ditangkap dan dipeliharanya selama dua hari, dan menghilang dari dalam peti dengan sendirinya.
Setelah beristirahat untuk makan siang dan sholat dzuhur di rumah salah seorang warga di daerah tersebut, dilakukan scanning daerah Sindanglawang, dan dilanjutkan scanning Citarowek dibantu oleh Jajang.
Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Raksajaya. Di tengah perjalanan, kami bertanya kepada warga di Balangendong. Menurut informasi yang didapat, di Balangendong juga terdapat Kukang yang sering terlihat melintasi kabel listrik dan sekitar jam 8 sering terlihat Kukang yang menyeberang jalan. Scanning desa Balangendong dilakukan saat itu juga. Tim di bagi dua kelompok untuk melakukan penjelajahan daerah sekitar Cipurut, dengan diantar warga. Tapi hanya dilakukan sebentar, karena keadaan sekitar terlalu ribut karena jumlah orang yang melakukan penyusuran yang terlalu banyak.
Malam itu kami bermalam di kediaman Punduh atau kepala kampung setempat.

Day 3
18 Agustus 2007


Pagi hari Pak Ade, salah satu angota tim, melakukan penjelajahan dan berhasil menemukan Kukang yang berada di rumpun Bambu. Ketika kami melihat Kukang tersebut, pada pukul 07.00 Kukang masih terlihat beberapa kali grooming alias membersihkan diri dengan menjilati rambut (bulu)-nya dan membenahi posisi untuk tidur. Kukang tersebut merupakan Kukang dewasa yang tampak rusak mata kanannya dengan beberapa luka di bagian dahi & kaki. Puas mengamati Kukang temuan Pak Ade, kami putuskan untuk menyudahi survey di lokasi ini untuk melakukan perjalanan ke lokasi berikutnya.
Perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Sodong. Akan tetapi ternyata tempat yang kami tuju terlewat (lagi) hingga memasuki daerah Pakuleueur. Dari warga yang ada di sana didapatkan informasi bahwa Kukang pernah ditemukan di daerah tersebut, kurang lebih 2 minngu ke belakang oleh Pak Eman di perkebunan Cengkeh. Di sana juga ada warga yang memelihara Muka. Kami mendatangi rumah Pak Enim yang memelihara Muka, berdasarkan sedikit wawancara yang dilakukan, didapatkan informasi bahwa Pak Enim menangkap Kukang pada siang hari. Kukang diberi makan nasi, Pisang, dan gula oleh Pak Enim. Kukang peliharaan Pak Enim tampak dalam kondisi mengenaskan. Tangan kanannya dalam keadaan terikat. Dan mungkin karena mengikatnya terlalu kencang, daerah tangan yang terikat itu tampak mati. Beberapa dari surveyor merasa miris melihatnya sampai menangis karenanya. Setelah beberapa lama merayu, Pak Enim akhirnya mau melepaskan kembali Kukang itu, setelah sebelumnya tali dibuka terlebih dahulu.
Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Sodong. Kami tiba di rumah Pak Iwa Ulis atau SekDes Sodong Hilir. Menurut beliau di daerah tersebut pernah ditemukan Kukang yang sedang menyeberang jalan. Beres wawancara sebentar dilanjutkan dengan survey pengenalan wilayah dilakukan di lokasi tersebut. Pada malam harinya sekitar jam 19.30 dilakukan penjelajahan lokasi. Bagi sebagian besar anggota tim, Kukang lebih mudah ditemukan pada malam hari karena matanya tampak menyala dalam gelap. Tapi bagi Pak Ade, sang pawang Kukang, mensurvey Kukang siang atau malam sama saja baik alias sama mudahnya. Pada penjelajajahan malam itu, kami menemukan 3 individu Kukang di tempat yang terpisah. Cape, istirahat sebantar, survey kedua dilakukan pada pukul 22.30 dan kembali berhasil menemukan 2 individu Kukang.
Dari keseluruhan survey, mungkin penjelajahan inilah yang paling memuaskan hati, karena berhasil menemukan objek sasaran yang kami cari di habitatnya langsung pada saat jam ‘sibuknya’ dan banyak pula. Puas dengan keberhasilan ini, kami beristirahat menutup penjelajahan ini dengan penuh sukacita.



Day 4
19 Agustus 2007


Perjalanan hari ini dilanjutkan dengah tujuan Mandala, Pusparahayu, Puspahiang. Perjalanan terhenti di Pusparahayu. Menurut keterangan beberapa orang disana pernah ditemukan Kukang beberapa waktu yang lalu. Sekitar 3 tahun yang lalu seorang warga pernah menangkap Kukang dan mengurungnya hingga mati karena tidak diberi makan. Warga yang lain menyebutkan bahwa dirinya pernah sengaja menyembelih Kukang hanya untuk membuktikan mitos bahwa darah Kukang dapat menjadikan "rugrug tanah" (longsor) tapi ternyata tidak. Informan pun sering beranggapan yang sama bahwa Kukang merupakan satwa "gaib" yang sering digunakan oleh orang-orang untuk menghancurkan kejayaan orang yang tidak disenanginya. Bagian tubuh Kukang yang sering digunakan untuk aksi santet ini yaitu darah, dan tulangnya.
Perjalanan dilanjutkan kembali hingga tiba di Salawu. Menurut seorang bapak yang kami temui disana, Kukang mungkin terdapat di Kawungsari, Kutawaringin, dan Tenjowaringin. Setelah beristirahat untuk sholat dan makan, perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di Kutawaringin setelah sebelumnya melewati medan yang cukup berat. Di sana, seperti sebelumnya, kami mencari informasi ke warga setempat. Beberapa warga menyebutkan beberapa kali Kukang dijual di pinggir jalan seharga Rp 15.000,- - Rp 25.000,-. Dari salah satu informan tersebut, bernama Pak Idin Sekmat Cipatujah, juga didapat keterangan bahwa pernah ditemukan Kukang di Cikukulu, Karangnunggal kurang lebih 1 bulan yang lalu, dan di Ciembe kurang lebih 2 bulan yang lalu.
Setelah bertemu dengan Kuwu Kutawaringin, perjalanan dilanjutkan hingga tiba di Kawungsari pada saat maghrib. Kami istirahat sebentar di sana. Setelah Isya, sekitar jam 8 dilakukan penyusuran lokasi selama kurang dari dua jam. Dari penyusuran ini kembali berhasil ditemukan Kukang yang sedang berada di Pohon Hamerang. Dari hasil pengamatan, Kukang yang kami temukan diduga masih juvenil (remaja). Mata kanan Kukang tersebut rusak, sehingga tampak tidak menyala dalam gelap.
Setelah selesai puas menjelajah, kami beristirahat di rumah Pak Kuwu Kawungsari.


And After All

Hampir di semua lokasi yang disurvey, Kukang tidak menjadi pilihan untuk diburu (untuk dipelihara, karena mitos & anggapan bahwa Kukang merupakan penyebab/pertanda musibah) ataupun untuk disingkirkan (dibunuh karena dianggap mengganggu, contoh: Careuh).
Tetapi di semua lokasi juga diperoleh fenomena bahwa tidak diburu/dibunuhnya sang Kukang di lokasi-lokasi tersebut, generasi muda (umur 30 tahun ke bawah) tidak percaya dengan mitos atau kepercayaan apapun. Kukang bagi generasi muda dianggap hewan biasa, yang tampak jinak & unik untuk dipelihara, sehingga menangkap-memelihara-membunuh Kukang dianggap sebagai tindakan biasa saja. Sungguh disayangkan. Seharusnya kesadaran dengan dasar alasan mitos maupun kelestarian itu sendiri, sebaiknya lebih dimiliki oleh generasi muda sebagai penerus bangsa & alam ini. Tetapi lagi, semoga kesimpulan sementara kami ini tidaklah benar. Semoga di lokasi selanjutnya, Kukang & generasi muda merupakan partner yang bersahabat.

Survey selanjutnya akan kami lakukan tanggal 27 Agustus 2007 mendatang, Insya Allah. Kami sungguh sangat bersemangat menjelajah alam untuk ikut sekedar ‘berbuat’ hal lebih bagi kelestarian Kukang. Dengan segala keterbatasan sarana-prasarana & medan yang kami hadapi, Kami selalu bersemangat! Doakan kami ya... !!!