Selasa, Juli 10, 2007

Kukang Jawa The Foreword

Siapa Kukang Jawa?

Siapa tak kenal kucing & panda. Keduanya merupakan hewan imut & menggemaskan yang akrab yang bisa kita gendong & peluk (kucing & boneka panda maksudnya). Coba bayangkan, panda yang coklat putih, bukan hitam putih, yang agak-agak kurus seperti kucing, bukan bulet gendut. Bayangkan juga matanya yang bulat belo (bulat besar, bolotot (Sunda)) dengan lingkaran hitam, tapi yang ini lingkarannya coklat tua & ada tangkai yang menggaris ke arah dahi terus hingga punggung. Susah? Ya udah, coba lihat gambar di (akhir, di mana, nyumput) ini. Sudah mirip belum? :-D



Beberapa dari kita mungkin sudah pernah melihatnya, tapi mungkin dengan nama berbeda. Kuskus? Koala Irian? Panda Irian? Bukan, bukan, salah itu! Sahabat kita yang ‘baru tapi lama’ ini bernama Kukang. Orang Sunda mengenalnya sebagai Muka, Malu-malu, atau Oces. Katanya si K ini lebih suka nyumput alias menyembunyikan muka dengan tangan alias kaki depannya. Matanya menyala dalam gelap seperti juga kucing, dan selalu melangkah dengan pelan....sekali seperti malas. Tetapi perjumpaan pertamanya bisa langsung membuat kita jatuh hati karena gemas ingin menggendong & mengelusnya. Andai si K senang digendong & dielus-elus. Sayangnya si K itu bukan hewan jinak (meski tampak begitu, penampilan bisa menipu toh?!), dia hewan liar yang lebih suka menggulung diri, menyembunyikan mukanya, menghindar dari manusia.


Si K yang kelihatan bergerak malas & lamban ini sebenarnya punya taring yang katanya bisa menyalurkan ludahnya yang beracun bagi siapa saja yang mengganggu. Saudara-saudara si K yang telah menjadi peliharaan adalah hewan-hewan yang tidak mujur. Mereka lebih dahulu ketakutan setengah mati & tersiksa saat diculik dari rumah pohonnya, untuk kemudian penangkap atau pedagang akan memotong taringnya agar tidak membahayakan majikanya. Kasihan. Ini suatu bukti bahwa si K bukanlah hewan piaraan yang aman.

Dimana rumahnya?



Oh ya sebelum kita maen ke rumah atau habitat alias tempat hidupnya, mari kita kenal dahulu siapa sebenarnya si K ini. Meski terlihat mirip panda, kuskus, atau kucing, K bukanlah bangsa panda, kuskus, ataupun bangsa kucing. Dia justru tergolong sebagai bangsa primata bersama-sama dengan monyet & kera. Lho?! Iya, K merupakan keluarga monyet & kera yang kata para ahli paling primitif. Kenapa disebut demikian karena dibanding anggota primata lainnya yang lincah & pintar, K justru lamban karena bentuk tangan & matanya yang unik yang membuat dia tampak terlihat bodoh. Tampangnya sih memang tampak demikian memelas, tetapi sebenernya K punya otak yang relatif lebih besar yang menjadikannya lebih pintar daripada bangsa-bangsa hewan lain).

Ada 4 anggota bangsa primata yang tinggal di Indonesia; orangutan, owa, monyet, dan kukang. Di pulau Jawa yang luas hutannya justru paling sempit se-Indonesia, hidup tiga jenis monyet, satu kera, & satu pra-primata/prosimian. Mereka berlima terdiri dari monyet ekor panjang, lutung, surili, owa jawa, & kukang jawa. Si K ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, & beberapa kepulauan di Indonesia. Si K yang tinggal di pulau jawa jenisnya beda dengan keluarga K di pulau lain. Kita sebut saja dia KJ, si kukang jawa.


KJ tinggal di pepohonan & rumpun bambu di hutan-hutan kecil di Jawa. Di Sumedang, KJ dapat ditemui di kebun yang semi hutan, yang banyak rumpun bambu, & biasanya jarang diurus & dikunjungi manusia (Winarti, 2003). Kebun yang seperti ini dapat ditemui di semua daerah di Jawa Barat dengan sebutan Talun (Sunda). Letak talun biasanya agak dekat pemukiman atau tepi hutan alam. Di talun biasanya banyak hewan-hewan liar seperti musang bulan atau careuh (Paradoxurus javanicus), berbagai jenis burung, bajing, ular, dan tentunya kadal-cicak-tokek, kodok, serangga-kupu-kupu, & tentunya KJ.
Dalam kesehariannya, KJ makan buah-buahan, getah, air nira, nektar, cicak, & serangga yang berlimpah di talun. Hewan-hewan liar talun seperti KJ & careuh ini juga berperan sebagai penyebar biji-bijian tumbuhan, sehingga atas jasa mereka talun bisa tetap hijau. KJ & para penghuni talun lainnya mempunyai peran yang penting dalam keberlangsungan proses rantai makanan yang seimbang sehingga kelestarian alam tetap dapat terjaga. Selain dapat mengambil hasil talun berupa kayu, bambu dan buah-buahan, talun yang semi hutan akan dapat memberi manfaat bagi kita berupa kesejukan udara & cadangan air untuk daerah sekitarnya. Thanx to KJ n friends.


Kenapa KJ harus ditolong

Dari lima jenis primata jawa, KJ-lah satu-satunya yang primitif dan satu-satunya yang beraktivitas di malam hari (istilahnya nokturnal, untuk hewan yang aktif pada malam hari & tidur di siang hari). KJ pun dapat ditemukan hidup di hutan-hutan kecil yang dekat dengan kebun-kebun kita. Walaupun demikian keberadaanya sama sekali tidak mengganggu tanaman kebun. KJ & hewan-hewan hutan atau talun justru memberi manfaat besar bagi kita sehubungan dengan peran mereka sebagai bagian dari komponen penyeimbang kehidupan.
KJ adalah hewan liar yang unik & mulai langka karena sering diburu & habitatnya rusak. Kondisi ini pula yang menyebabkan KJ dilindungi oleh pemerintah agar tidak diburu ataupun dipelihara. Menurut IUCN-organisasi internasional pemerhati flora-fauna, informasi mengenai keluarga KJ tergolong minim data (Data Deficient); & menurut CITES-konvensi internasional pemerhati perdagangan hewan liar tergolong Apendiks II artinysa boleh diambil dari alam dengan syarat & ketentuan tertentu.


Bagaimana kondisi KJ di alam di Jawa? Sampai saat ini belum ada penelitian & bukti yang mengatakan mereka masih banyak. Padahal jika kita tidak menutup mata, KJ masih sering dijual di tempat penjualan hewan peliharaan. KJ banyak diburu dari alam untuk ini. Kita tidak tahu pasti bagaimana kondisi KJ di alam, tapi kita bisa tahu dengan melihat jumlah KJ yang banyak jadi peliharaan berarti telah mengurangi jumlah KJ di alam, sangat!
Berapa jumlah KJ sekarang, ada di daerah mana saja, apakah mereka dapat bertahan hidup & tidak punah, kita tidak tahu. Dengan kondisi hutan Pulau Jawa yang sempit, kecil-kecil, serta banyak yang rusak ditebangi, apakah KJ masih akan dapat hidup & berkembang biak? Semoga iya, agar tidak mati punah seperti badak jawa & harimau jawa. Semoga.


Ayo lestarikan KJ !

Kalau mengingat lucunya KJ bawaanya kita pengin memelihara. Tapi coba ingat betapa bahagianya kita bisa tinggal nyaman di rumah, tentu KJ juga. Kita masih dapat belajar & beraktifitas dengan baik jika kita berada dalam kondisi sehat & enak di lingkungan kita, KJ juga. Dia harus makan & hidup sehat agar dapat berperan bagi habitat/tempat tinggal alaminya. Kita harus sadar bahwa udara sehat & air yang segar ini ada karena masih ada tumbuhan di sekitar kita yang dibantu penyebarannya oleh hewan-hewan liar. Kita harus lindungi tumbuhan & habitat hewan.

Jika kondisi habitat atau tempat hidup kukang yang di Jawa sudah yang banyak rusak & hilang, bagaimana KJ bisa tetap hidup & memberi manfaat bagi kita?
Teman-teman jangan pernah pelihara KJ ya...! KJ lebih senang tinggal di habitat alaminya. Jika kita memelihara satu ekor KJ saja, coba bayangkan berapa tumbuhan yang bergantung penyebaran hidupnya pada hewan imut ini. Sebagai peliharaan, karena KJ adalah bangsa primata (sebangsa dengan monyet & kera), dia lebih mudah menularkan & ditulari penyakit. Untuk dapat teman-teman timang & sayang-sayang, KJ harus ketakutan & tersiksa saat diburu & dipotong taringnya. KJ bukan hewan peliharaan, dia hewan liar yang dilindungi. Memelihara KJ berarti melanggar hukum. Masih ingin memelihara KJ? Say No! Biarkan KJ hidup di habitat alaminya. Ayo kita lindungi habitatnya!

Siapa Kukang Jawa?

Materi Dasar Mengenal KUKANG JAWA
Siapa Kukang Jawa (kuja)? Siapa tak kenal kucing & panda. Keduanya merupakan hewan imut & menggemaskan yang akrab yang bisa kita gendong & peluk (kucing & boneka panda maksudnya). Coba bayangkan, panda yang coklat putih, bukan hitam putih, yang agak-agak kurus seperti kucing, bukan bulet gendut. Bayangkan juga matanya yang bulat belo (bulat besar, bolotot (Sunda)) dengan lingkaran hitam, tapi yang ini lingkarannya coklat tua & ada tangkai yang menggaris ke arah dahi terus hingga punggung. Susah? Ya udah, coba lihat gambar di (akhir, di mana, nyumput) ini. Sudah mirip belum? :-D
Beberapa dari kita mungkin sudah pernah melihatnya, tapi mungkin dengan nama berbeda. Kuskus? Koala Irian? Panda Irian? Bukan, bukan, salah itu! Sahabat kita yang ‘baru tapi lama’ ini bernama Kukang. Orang Sunda mengenalnya sebagai Muka, Malu-malu, atau Oces. Katanya kukang lebih suka nyumput alias menyembunyikan muka dengan tangan alias kaki depannya. Matanya menyala dalam gelap seperti juga kucing, dan selalu melangkah dengan pelan....sekali seperti malas. Tetapi perjumpaan pertamanya bisa langsung membuat kita jatuh hati karena gemas ingin menggendong & mengelusnya. Andai kukang senang digendong & dielus-elus. Sayangnya kukang bukanlah hewan jinak (meski tampak begitu, penampilan bisa menipu toh?!), dia hewan liar yang lebih suka menggulung diri, menyembunyikan mukanya, menghindar dari manusia.

Si Kukang yang kelihatan bergerak malas & lamban ini sebenarnya punya taring yang katanya bisa menyalurkan ludahnya yang beracun bagi siapa saja yang mengganggu. Saudara-saudara kukang yang telah menjadi peliharaan adalah hewan-hewan yang tidak mujur. Mereka lebih dahulu ketakutan setengah mati & tersiksa saat diculik dari rumah pohonnya, untuk kemudian penangkap atau pedagang akan memotong taringnya agar tidak membahayakan majikanya. Kasihan. Ini suatu bukti bahwa kukang bukanlah hewan piaraan yang aman.
Dimana Rumahnya? (rumah=habitat)
Oh ya sebelum kita maen ke rumah atau habitat alias tempat hidupnya, mari kita kenal dahulu siapa sebenarnya si kukang ini. Meski terlihat mirip panda, kuskus, atau kucing, kukang bukanlah bangsa panda, kuskus, ataupun bangsa kucing. Dia justru tergolong sebagai bangsa primata bersama-sama dengan monyet & kera. Lho?! Iya, kukang merupakan keluarga monyet & kera yang kata para ahli paling primitif. Kenapa disebut demikian karena dibanding anggota primata lainnya yang lincah & pintar, kukang justru lamban karena bentuk tangan & matanya yang unik yang membuat dia tampak terlihat bodoh. Tampangnya sih memang tampak demikian memelas, tetapi sebenernya kukang punya otak yang relatif lebih besar yang menjadikannya lebih pintar daripada bangsa-bangsa hewan lain).
Ada lima anggota bangsa primata yang tinggal di Indonesia; orangutan, owa, monyet, tarsius, dan kukang. Di pulau Jawa yang luas hutannya justru paling sempit se-Indonesia, hidup tiga jenis monyet, satu kera, & satu pra-primata/prosimian. Mereka berlima terdiri dari monyet ekor panjang, lutung, surili, owa jawa, & kukang jawa. Kukang ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, & beberapa kepulauan di Indonesia. Kukang yang tinggal di pulau jawa jenisnya beda dengan keluarga kukang di pulau lain. Kita sebut saja dia kuja, si kukang jawa.
Kuja tinggal di pepohonan & rumpun bambu di hutan-hutan kecil di Jawa. Di Sumedang, kuja dapat ditemui di kebun yang semi hutan, yang banyak rumpun bambu, & biasanya jarang diurus & dikunjungi manusia (Winarti, 2003). Kebun yang seperti ini dapat ditemui di semua daerah di Jawa Barat dengan sebutan Talun (Sunda). Letak talun biasanya agak dekat pemukiman atau tepi hutan alam. Di talun biasanya banyak hewan-hewan liar seperti musang bulan atau careuh (Paradoxurus javanicus), berbagai jenis burung, bajing, ular, dan tentunya kadal-cicak-tokek, kodok, serangga-kupu-kupu, & tentunya kuja. Dalam kesehariannya, kuja makan buah-buahan, getah, air nira, nektar, cicak, & serangga yang berlimpah di talun. Hewan-hewan liar talun seperti kuja & careuh ini juga berperan sebagai penyebar biji-bijian tumbuhan, sehingga atas jasa mereka talun bisa tetap hijau. Kuja & para penghuni talun lainnya mempunyai peran yang penting dalam keberlangsungan proses rantai makanan yang seimbang sehingga kelestarian alam tetap dapat terjaga. Selain dapat mengambil hasil talun berupa kayu, bambu dan buah-buahan, talun yang semi hutan akan dapat memberi manfaat bagi kita berupa kesejukan udara & cadangan air untuk daerah sekitarnya. Thanx to kuja n friends.
Kenapa Kukang Jawa harus ditolong?
Dari lima jenis primata jawa, kuja-lah satu-satunya yang primitif dan satu-satunya yang beraktivitas di malam hari (istilahnya nokturnal, untuk hewan yang aktif pada malam hari & tidur di siang hari). Kuja pun dapat ditemukan hidup di hutan-hutan kecil yang dekat dengan kebun-kebun kita. Walaupun demikian keberadaanya sama sekali tidak mengganggu tanaman kebun. Kuja & hewan-hewan hutan atau talun justru memberi manfaat besar bagi kita sehubungan dengan peran mereka sebagai bagian dari komponen penyeimbang kehidupan. Kuja adalah hewan liar yang unik & mulai langka karena sering diburu & habitatnya rusak. Kondisi ini pula yang menyebabkan kuja dilindungi oleh pemerintah agar tidak diburu ataupun dipelihara. Menurut IUCN-organisasi internasional pemerhati flora-fauna, informasi mengenai keluarga KJ tergolong terancam punah (ENDANGERED); & menurut CITES-konvensi internasional pemerhati perdagangan hewan liar tergolong Apendiks I artinya TIDAK boleh diambil dari alam kecuali untuk keperluan ilmu pengetahuan.
Bagaimana kondisi kuja di alam di Jawa?
Sampai saat ini belum ada penelitian & bukti yang mengatakan mereka masih banyak. Padahal jika kita tidak menutup mata, KJ masih sering dijual di tempat penjualan hewan peliharaan. Kuja banyak diburu dari alam untuk ini. Kita tidak tahu pasti bagaimana kondisi kuja di alam, tapi kita bisa tahu dengan melihat jumlah kuja yang banyak jadi peliharaan berarti telah mengurangi jumlah kuja di alam, sangat! Berapa jumlah kuja sekarang, ada di daerah mana saja, apakah mereka dapat bertahan hidup & tidak punah, kita tidak tahu. Dengan kondisi hutan Pulau Jawa yang sempit, kecil-kecil, serta banyak yang rusak ditebangi, apakah kuja masih akan dapat hidup & berkembang biak? Semoga iya, agar tidak mati punah seperti badak jawa & harimau jawa. Semoga.
Ayo lestarikan kukang jawa
Kalau mengingat lucunya kuaj bawaanya kita pengin memelihara. Tapi coba ingat betapa bahagianya kita bisa tinggal nyaman di rumah, tentu kuja juga. Kita masih dapat belajar & beraktifitas dengan baik jika kita berada dalam kondisi sehat & enak di lingkungan kita, kuja juga. Dia harus makan & hidup sehat agar dapat berperan bagi habitat/tempat tinggal alaminya. Kita harus sadar bahwa udara sehat & air yang segar ini ada karena masih ada tumbuhan di sekitar kita yang dibantu penyebarannya oleh hewan-hewan liar. Kita harus lindungi tumbuhan & habitat hewan.
Jika kondisi habitat atau tempat hidup kukang yang di Jawa sudah yang banyak rusak & hilang, bagaimana kuja bisa tetap hidup & memberi manfaat bagi kita? Teman-teman jangan pernah pelihara kuja ya...! Kuja lebih senang tinggal di habitat alaminya. Jika kita memelihara satu ekor kuja saja, coba bayangkan berapa tumbuhan yang bergantung penyebaran hidupnya pada hewan imut ini. Sebagai peliharaan, karena kuja adalah bangsa primata (sebangsa dengan monyet & kera), dia lebih mudah menularkan & ditulari penyakit. Untuk dapat teman-teman timang & sayang-sayang, kuja harus ketakutan & tersiksa saat diburu & dipotong taringnya. Kuja bukan hewan peliharaan, dia hewan liar yang dilindungi. Memelihara kuja berarti melanggar hukum. Masih ingin memelihara Kuja? Say No! Biarkan kuja hidup di habitat alaminya. Ayo kita lindungi habitatnya!