Wednesday, October 31, 2007

Tamu Tak Diundang

Tamu tak diundang
(oleh winar)

“Saya tidak punya kamus bahasa Indonesia untuk dapat menjelaskan definisi tamu sebagai pembuka cerita ini. Berdasar yang saya pahami, tamu adalah orang atau sesuatu yang datang berkunjung untuk sementara waktu. Tamu yang saya maksud di sini sebagai tamu tak diundang adalah si KJ, Kukang Jawa, yang lucu namun mengenaskan, juga bisa berarti kami sendiri. Kami sering datang sebagai tamu tak diundang, berkunjung ke beberapa daerah hingga berkunjung ke rumah siapapun pemelihara KJ” (winar)

Basecamp
Tim Survey Kukang Jawa:
Jl. Perum Margasari No. 77 Desa Manggungjaya Rajapolah Tasikmalaya





Selama masa jeda alias hari-hari setelah presurvey, baik presurvey I dan II serta pada saat latihan survey (pelatihan standarisasi survey kukang & habitatnya), kami di basecamp sempat kedatangan tamu tak diundang. Tamu tersebut adalah kukang jawa hasil serahan dari penduduk yang menemukannya di dekat pemukiman. Sebagaimana pernah diceritakan dalam presurvey I kami mengobrol (wawancara) dengan penduduk yang pernah bertemu atau menangkap KJ dan juga berkunjung ke rumah penduduk yang memelihara KJ. Sambil mengobrol tentunya kami mendapat banyak informasi sekaligus secara halus memberikan informasi penyadartahuan tentang bagaimana pentingnya perlindungan KJ sebagai satwa liar yang dikhawatirkan punah berikut menceritakan peran-perannya di alam. Sejauh ini alhamdulillah pertukaran informasi ini membuahkan apresiasi, dukungan, dan bantuan dari penduduk yang akhirnya membuahkan data perjumpaan KJ di alam. Yang lebih membahagiakan lagi adalah timbulnya kesadaran pemelihara KJ untuk melepaskan peliharaanya kembali ke habitatnya.

Selama masa jeda tadi, kami sempat dititipi KJ hasil serahan penduduk. Prosedur satwa konfiskasi (hasil sitaan atau penyerahan sukarela) adalah pencatatan data morfometrik KJ tersebut, meliputi panjang badan & anggota gerak, warna & keterangan kesehatan serta ciri khusus jika ada, serta penimbangan berat badan. Jika KJ mengalami luka, maka kami obati dulu semampunya, jika parah maka akan kami serahkan kepada pihak yang lebih mampu untuk itu. Untuk hal ini kami telah berkoordinasi dengan International Animal Rescue Indonesia di Bogor.

Prosedur pengukuran morfometrik Kukang jawa

KJ ini kemudian akan dikembalikan ke habitatnya. Pedoman kami adalah jika KJ masih terlihat sehat & galak, berarti dia masih memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di alam. Biasanya sifat & perilaku tersebut jika interaksi KJ dengan manusia kurang dari 1-2 bulan. Mengenai tempat peliaran kembali, pedoman kami adalah selalu melepasliarkan KJ kembali ke tempat ia ditangkap. Jika tempat tersebut tidak representatif lagi sebagai habitat, maka lokasi pelepasliaran kami pindah ke lokasi terdekat yang masih bagus sebagai habitat KJ. Habitat KJ yang masih bagus adalah habitat yang terdapat tumbuhan pakan & tempat untuk tidur, serta terletak agak jauh dari pemukiman.

Tamu Pertama: KJ dari Sukakerta Ciamis
KJ Released 1Pada saat jeda usai presurvey I kami diserahi seekor KJ jantan dari Kang Sony, warga Sukakerta Ciamis. Dia menemukan KJ melintas di jalan pada malam hari. Karena takut terlindas maka KJ tersebut ditangkap & diserahkan pada kami. KJ tersebut memiliki banyak luka & bergerak sangat lamban. Setelah pengobatan & pengukuran, kami menuju lokasi tempat menemukan KJ. Pelepasliaran dilakukan pada malam berikutnya. Tanpa disangka di lokasi yang sama kami menemukan Careuh, serta dua ekor KJ. Penemuan dua spesies pada lokasi yang cukup dekat dengan penduduk ini menimbulkan banyak asumsi atau dugaan. Bisa jadi habitat ini memang bagus, habitat ini merupakan ‘pulau’ yang terdesak ‘lautan pemukiman’, atau bisa jadi satwa-satwa liar ini sudah sangat beradaptasi dengan manusia (tidak saling mengganggu).

Tamu Ke Dua: Dua ekor!
Sekali lagi pada masa istirahat setelah presurvey (ke dua) kami mendapat laporan tentang KJ, tidak tanggung-tanggung dua laporan sekaligus waktu bersamaan. Satu KJ piaraan Kang Ade, warga Desa Manggungjaya berhasil kami pinta dengan sukarela.







Satu KJ lagi adalah KJ di Sukakerta yang terlihat merayap di kabel listrik. Warga sekitar khawatir terjadi arus pendek yang bisa mematikan KJ tersebut sekaligus mengganggu listrik warga. Yang menarik, KJ ini ternyata merupakan KJ hasil pelepasliaran pertama. Memang KJ yang satu ini terlihat agak lamban, mungkin karena sudah tua atau sakit atau mungkin sebenarnya adalah bekas piaraan sebelum tertangkap oleh Kang Sony. Kedua KJ tersebut kemudian kami lepaskan kembali setelah melewati prosedur seperti biasa. Lokasi pelepasliaran benar-benar kami pertimbangkan jauh dari pemukiman, agar KJ tidak lagi mendekati pemukiman warga.

Oya, pada jeda presuvey ini juga kami mendapat telpon dari Kang Ade Bako, warga Desa Pameutingan Cipatujah adanya KJ di daerah tersebut. Kami memang meninggalkan semacam pamflet informasi KJ di daerah yang kami (pre)survey, dengan maksud penyadartahuan sekaligus pendataan laporan penampakan KJ di daerah tersebut. Jika ada warga yang melihat kami harap mereka bersedia membantu pendataan dengan melaporkan keberadaan KJ tersebut pada kami. Laporan Kang Ade ini kemudian hanya bisa kami tampung dulu mengingat jadwal presurvey berikutnya masih harus kami lakukan.

Kami tamu KJ ke tiga: Di Karangjaya Tasikmalaya
KJ Released 3Pada tanggal 21-23 September 2007, kami melakukan pelatihan mandiri standardisasi pendataan KJ. Hari ke dua, kami melakukan praktek survey. Bukannya menemukan KJ kami malah (lagi-lagi) melakukan penyadartahuan & pelepasliaran KJ milik pemburu warga Desa Karangjaya Tasikmalaya.







Tamu Lama, akhirnya: Presurvey & pelepasliaran di Desa Pameutingan Tasikmalaya
KJ Released 4Setelah libur lebaran kami melakukan presurvey III ke dua lokasi: Desa Sarimanggu Karangnunggal & Desa Pameutingan Cipatujah. Lokasi ke dua merupakan lokasi yang pernah kami presurvey yang kemudian dilaporkan kembali oleh warga (Kang Ade Bako) tentang adanya penampakan KJ. Ternyata KJ yang dimaksud beliau sengaja ia tangkap agar begitu kami ke sana ada bukti bahwa KJ tersebut memang benar ada di Desanya (hmm..). KJ tersebut kemudian kami lepasliarkan seperti biasa.
...
Tiada kata selanjutnya (belum mungkin, saya harus cepat-cepat packing kembali ke Bogor), yang pasti kami: KJ & tim ecoadcom memang tamu yang kompak! J Setuju Ya?!!

Saturday, October 20, 2007

Program Pendataan Sebaran Habitat Kukang Jawa (Tasikmalaya-Ciamis)

Penelitian ini adalah kegiatan penelitian (non profit tentunya) yang bertujuan mendata keberadaan kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan penyebarannya di Tasikmalaya-Ciamis. Pendataan sebaran habitat kukang jawa ini direkomendasikan oleh BKSDA Jawa Barat dan LIPI, dengan dukungan dana dari Rufford Small Grants Foundation. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di daerah Tasikmalaya & Ciamis selama bulan Juli 2007 hingga Agustus 2008 dengan penanggung jawab, saya; Winar, Indah Winarti, mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Primatologi IPB dengan bimbingan Ibu Wirdateti, M. Si (LIPI), Prof. Hadi S. Alikodra (IPB dan WWF), dan Helga Schulze (Department for Neuroanatomy of Ruhr-University dan Loris Conservation Database).

Kukang Jawa
Kukang jawa terdaftar sebagai satwa dilindungi Pemerintah Indonesia berdasarkan UU Perlindungan No. 66/Kpts/Um/2/1973, SK Menhut 10 Juni 1991 No. 01/Kpts-II/1991, UU No. 5 Th. 1990, dan PP No. 7 th. 1999. Secara internasional, status konservasi kukang jawa ini masuk ke dalam kategori Data Deficient-En A1b (IUCN, 1994), alias kekurangan data populasi dan kondisinya di habitat aslinya di alam dan telah meningkat status Apendiksnya dari Apendiks I menjadi Apendiks II (CITES, 2007).

Dari deretan peraturan dan kategori tersebut kita tentu sudah dapat mengetahui mengapa kukang jawa dilindungi: kukang jawa terancam punah. Kenapa? Karena kurang data-banyak perburuan dan dipiara masyarakat-tempat hidup rusak dan menyempit, penegakan hukum terhadap perlindungannya lemah, dan .... (sebut saja).

Bagi masyarakat pada umumnya, kepedulian terhadap keberadaan satwa ini di alam tidaklah besar. Hal ini dimunkinkan karena banyak hal. Kukang dianggap tidak seeksotis satwa liar lain, seperti orangutan, harimau, atau badak misalnya. Kukang juga sering dikenal masyarakat sebagai satwa lain, seperti panda/koala Irian atau Kuskus. Ketidaktahuan tentang kukang dan kondisinya di alam, membuat perlindungan kukang menjadi lemah. Dan akhirnya diperparah oleh tindakan orang-orang yang mungkin sudah tahu atau benar-benar tidak mau tahu, untuk mendapat keuntungan dari satwa ini sebagai peliharaan.

Mengapa dilakukan pendataan sebaran kukang jawa?
Pertama, informasi kondisi kukang jawa tidak pernah ada, baik sebaran habitatnya maupun populasinya. Penelitian, perhatian konservasi, dan pelaksanaan perlindungan hukum satwa ini sangat-sangat minim sekali.
Kedua, kondisi ini dapat membahayakan status konservasi kukang jawa dari ‘terancam punah’ (status sebelum Kurang Data) menjadi benar-benar ‘punah’, atau dari Apendiks II-Apendiks II. Ketiga, apakah kita akan diam saja seperti kita telah kehilangan badak jawa dan (mungkin) harimau jawa?

Apa yang dapat kita lakukan?
Ayo bergerak bersama, lindungi kukang jawa dari ketiadaan data kepunahan. Program pendataan sebaran kukang jawa merupakan salah satu langkah awal dari sekian langkah-langkah yang dapat kita lakukan.

1) Jika kamu peduli pada kelestarian satwa liar & alam Indonesia, ayo gabung dalam program ini
2) jika kamu senang jalan-jalan ke alam & juga wisata budaya
3) jika kamu senang berhubungan dengan banyak orang
ayo ikut program ini dengan menjadi fasilitator (jalan-jalan, survey kukang jawa, menelitinya, berbagi informasi penyadartahuan, merintis upaya konservasi berbasis masyarakat lokal)


The last, Ingat!
- Jangan pernah memelihara Kukang
- Jangan pernah membelinya (dengan alasan apapun)
- Hubungi kami jika mengetahui informasi keberadaan Kukang jawa
ocescreation@gmail.com, 0265-9144674 (silahkan via SMS), atau langsung maen ke basecamp kami: Jl. Perum Margasari No.77 RT 1 RW 9 Rajapolah Tasikmalaya 46155


ayo!