Monday, December 31, 2007

Kabar Akhir Tahun

(mohon maaf atas ketidaknyamanan resolusi gambar,
kami masih harus banyak belajar desain gambar & blog..)

Sudah lama kami tidak update kabar di blog kukang jawa ini. Wajah blog ini juga jadi baru kan... Kami masih sedang belajar untuk urusan desain & penampilan blog. Semoga tampilan sederhana ini tidak mengurangi maksud & isi dari kabar-kabar & informasi program pelestarian Kukang Jawa Priangan. Dan bukan kami minta permakluman sebagai manusia biasa, tapi memang jadwal-agenda serta tuntutan hidup benar-benar mengharuskan saya (& hampir semua teman-teman Ecoadcom, pelaksana program ini) harus bergulat dengan waktu. Selama jeda dua bulan terakhir kami disibukkan dengan urusan desain & proses percetakan material penyadartahuan, & tentunya persiapan survey lokasi 1.


Sesuai dengan agenda program Kukang Jawa, pelaksanaan survey lokasi pertama telah ditetapkan pada bulan Nopember, sementara hingga awal Nopember kemarin kami sama sekali masih sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ada yang kerja, kuliah, urusan keluarga (-nya), dan lain-lain. Alhamdulillah dengan berjibaku menyempat-nyempatkan diri, kami pun selesaikan beberapa material penyadartahuan Kukang Jawa:

Stiker
Poster
Film Kukang Jawa (versi I)
Mini Magz

Kami sangat berterima kasih pada para desainer (Wawan, Agung, Winar), dan tentunya partner kami: No Limit Printing (Kang Wawan & Kang Jodi) serta Garis Merah Printing (Super Ikin). Para partner pencetak ini sangat-sangat kooperatif dengan jadwal & kesibukan, serta budget kami yang pas-pasan. Berkat diskusi & masukan mereka jugalah hasil cetak yang optimal dapat terwujud. Terima kasih juga untuk Asep Gatto yang bersedia berangkat menyusul ke lapangan (lokasi survey) dengan membawa hasil cetak. Selain itu kami juga merasa sangat tertolong oleh beberapa sahabat yang dapat dengan tiba-tiba & tulus hati menjadi 'Bank' bagi kelancaran proses percetakan material penyadartahuan ini. Thanks, all are priceless, really!

Berbekal semua 'amunisi' tadi pun kami menjadi lebih efektif dalam menyampaikan informasi & penyadartahuan pelestarian Kukang Jawa. Di dua SD kami berkunjung & memutar film. Antusiasme dari teman-teman kecil beserta pihak sekolah ini benar-benar membuat rasa cape & penat kami terbayar. Sampai ketemu lagi ya...

Tema selanjutnya: Persiapan Survey 2 & ...

Survey 1: 2 individu per km!!

Survey keberadaan & sebaran Kukang Jawa (KJ) & habitatnya telah kami selesaikan awal Desember ini. Alhamdulillah dengan dua tambahan anggota baru, yang dua-duanya belum pernah melihat KJ di alam, sungguh sangat membantu. Fadli & Asep Gatto. Mereka langsung didaulat memegang tanggung jawad dalam tim, & bagusnya mereka bisa langsung 'tune in'. Fadli bertanggung jawab mendokumentasikan koordinat, alias jadi Tukang GPS (Global Positioning System, alat untuk mengetahui & menentukan koordinat posisi kita via bantuan satelit). Asep Gatto bertanggung jawab mendokumentasikan & menganalisa vegetasi habitat KJ.

Lokasi satu ini adalah Desa Sukamaju, Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya. Di lokasi ini kami melakukan survey dengan dua metoda Recce Walk (RW) & Line Transect (LT). Metoda pertama merupakan metoda yang masih menjadi diskusi para ahli ekologi & statistik, mengenai validitas datanya. Masing-masing metoda memiliki keunggulan & kelemahan sesuai fungsi & tujuannya. Metoda RW tidak dapat menghasilkan data kepadatan populasi, tetapi hanya menghasilkan indeks linear kilo meter terakhir. Hasilnya adalah jumlah individu/km. Sedangkan metode LT dapat menghasilkan suatu angka estimasi densitas/kepadatan, yaitu jumlah individu/km kuadrat.

Baiknya metode RW adalah kita tidak perlu menelusuri garis yang lurus, tidak perlu menghitung jarak tegak lurus dari transek-obyek, & memang dimaksudkan untuk dapat mengambil data dengan cepat. Metode RW diterapkan jika kita akan mengambil data dalam keterbatasan waktu (short survey), karenanya jalur RW justru memilih jalur yang paling mudah untuk ditelusuri, tidak harus lurus seperti LT, bahkan juga bisa dengan menelusuri jalan yang biasa dilalui manusia. Pola ini sangat dihindari dalam survey ekologi karena dapat menghasilkan bias. Sebagaimana kita pahami, sebaran satwa liar cenderung menghindari manusia, begitu pula dengan vegetasi. Sebaran & struktur vegetasi akan berbeda berdasar ketinggian & akibat pengaruh akses manusia. Pengambilan data LT harus benar-benar representatif & random sampling (nah lho!)

Diskusi lebih lanjut... kontak kami dong..! Dengan senang hati kami bersedia mendiskusikan hal ini. Sekarang yang ingin kami kabari adalah kami berhasil bertemu dengan sekian individu KJ hingga menghasilkan data akhir sebaran 2 individu per kilo meter. Pada setiap perjumpaan kami berhasil menemui satu, dua, tiga, hingga empat individu KJ sekaligus. Berbagai fenomena baru tentang sleeping site, sleeping posisition, hingga fenomena ludah beracun pada KJ berhasil kami temui saat survey ini. Seru! Sebagian besar data memang masih menjadi diskusi & analisis kami, sehingga belum bisa diposting ke sini.

Selain itu berbagai pengalaman & pembelajaran juga dengan sukses kami raih. Kami yang pada awalnya sangat tergantung pada keputusan Winar selaku pengontrol agenda kegiatan, menjadi akhirnya berlomba-lomba memberi kontribusi & inisiatif bagi pelaksanaan program. Semua berperan, semua bisa & 'ngaruh' ! Sungguh senangnya bekerja bersama-sama... ;-)
Beberapa sahabat Ecoadcom yang masih belum mendapat kesempatan ataupun meluangkan waktu turun ke lapangan, dengan sangat antusias kami teriakkan: Ayo! Trust us, it is really an extra ordinary experience ever!

Mari bersama-sama bergerak mendukung upaya pelestarian alam & isinya, melalui program pelestarian Kukang Jawa Priangan (The Javan Slow Loris Conservation Program).

Chek out our new blog in English

Kabar akhir tahun kami juga memberanikan diri membuka new blog versi bahasa Inggris. Sekali lagi dengan kemampuan desain blog kami yang masih baru belajar, kami harap tidak mengurangi kepuasan teman-teman saat mengaksesnya.
Kunjungi ya...!

Wednesday, October 31, 2007

Tamu Tak Diundang

Tamu tak diundang
(oleh winar)

“Saya tidak punya kamus bahasa Indonesia untuk dapat menjelaskan definisi tamu sebagai pembuka cerita ini. Berdasar yang saya pahami, tamu adalah orang atau sesuatu yang datang berkunjung untuk sementara waktu. Tamu yang saya maksud di sini sebagai tamu tak diundang adalah si KJ, Kukang Jawa, yang lucu namun mengenaskan, juga bisa berarti kami sendiri. Kami sering datang sebagai tamu tak diundang, berkunjung ke beberapa daerah hingga berkunjung ke rumah siapapun pemelihara KJ” (winar)

Basecamp
Tim Survey Kukang Jawa:
Jl. Perum Margasari No. 77 Desa Manggungjaya Rajapolah Tasikmalaya





Selama masa jeda alias hari-hari setelah presurvey, baik presurvey I dan II serta pada saat latihan survey (pelatihan standarisasi survey kukang & habitatnya), kami di basecamp sempat kedatangan tamu tak diundang. Tamu tersebut adalah kukang jawa hasil serahan dari penduduk yang menemukannya di dekat pemukiman. Sebagaimana pernah diceritakan dalam presurvey I kami mengobrol (wawancara) dengan penduduk yang pernah bertemu atau menangkap KJ dan juga berkunjung ke rumah penduduk yang memelihara KJ. Sambil mengobrol tentunya kami mendapat banyak informasi sekaligus secara halus memberikan informasi penyadartahuan tentang bagaimana pentingnya perlindungan KJ sebagai satwa liar yang dikhawatirkan punah berikut menceritakan peran-perannya di alam. Sejauh ini alhamdulillah pertukaran informasi ini membuahkan apresiasi, dukungan, dan bantuan dari penduduk yang akhirnya membuahkan data perjumpaan KJ di alam. Yang lebih membahagiakan lagi adalah timbulnya kesadaran pemelihara KJ untuk melepaskan peliharaanya kembali ke habitatnya.

Selama masa jeda tadi, kami sempat dititipi KJ hasil serahan penduduk. Prosedur satwa konfiskasi (hasil sitaan atau penyerahan sukarela) adalah pencatatan data morfometrik KJ tersebut, meliputi panjang badan & anggota gerak, warna & keterangan kesehatan serta ciri khusus jika ada, serta penimbangan berat badan. Jika KJ mengalami luka, maka kami obati dulu semampunya, jika parah maka akan kami serahkan kepada pihak yang lebih mampu untuk itu. Untuk hal ini kami telah berkoordinasi dengan International Animal Rescue Indonesia di Bogor.

Prosedur pengukuran morfometrik Kukang jawa

KJ ini kemudian akan dikembalikan ke habitatnya. Pedoman kami adalah jika KJ masih terlihat sehat & galak, berarti dia masih memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di alam. Biasanya sifat & perilaku tersebut jika interaksi KJ dengan manusia kurang dari 1-2 bulan. Mengenai tempat peliaran kembali, pedoman kami adalah selalu melepasliarkan KJ kembali ke tempat ia ditangkap. Jika tempat tersebut tidak representatif lagi sebagai habitat, maka lokasi pelepasliaran kami pindah ke lokasi terdekat yang masih bagus sebagai habitat KJ. Habitat KJ yang masih bagus adalah habitat yang terdapat tumbuhan pakan & tempat untuk tidur, serta terletak agak jauh dari pemukiman.

Tamu Pertama: KJ dari Sukakerta Ciamis
KJ Released 1Pada saat jeda usai presurvey I kami diserahi seekor KJ jantan dari Kang Sony, warga Sukakerta Ciamis. Dia menemukan KJ melintas di jalan pada malam hari. Karena takut terlindas maka KJ tersebut ditangkap & diserahkan pada kami. KJ tersebut memiliki banyak luka & bergerak sangat lamban. Setelah pengobatan & pengukuran, kami menuju lokasi tempat menemukan KJ. Pelepasliaran dilakukan pada malam berikutnya. Tanpa disangka di lokasi yang sama kami menemukan Careuh, serta dua ekor KJ. Penemuan dua spesies pada lokasi yang cukup dekat dengan penduduk ini menimbulkan banyak asumsi atau dugaan. Bisa jadi habitat ini memang bagus, habitat ini merupakan ‘pulau’ yang terdesak ‘lautan pemukiman’, atau bisa jadi satwa-satwa liar ini sudah sangat beradaptasi dengan manusia (tidak saling mengganggu).

Tamu Ke Dua: Dua ekor!
Sekali lagi pada masa istirahat setelah presurvey (ke dua) kami mendapat laporan tentang KJ, tidak tanggung-tanggung dua laporan sekaligus waktu bersamaan. Satu KJ piaraan Kang Ade, warga Desa Manggungjaya berhasil kami pinta dengan sukarela.







Satu KJ lagi adalah KJ di Sukakerta yang terlihat merayap di kabel listrik. Warga sekitar khawatir terjadi arus pendek yang bisa mematikan KJ tersebut sekaligus mengganggu listrik warga. Yang menarik, KJ ini ternyata merupakan KJ hasil pelepasliaran pertama. Memang KJ yang satu ini terlihat agak lamban, mungkin karena sudah tua atau sakit atau mungkin sebenarnya adalah bekas piaraan sebelum tertangkap oleh Kang Sony. Kedua KJ tersebut kemudian kami lepaskan kembali setelah melewati prosedur seperti biasa. Lokasi pelepasliaran benar-benar kami pertimbangkan jauh dari pemukiman, agar KJ tidak lagi mendekati pemukiman warga.

Oya, pada jeda presuvey ini juga kami mendapat telpon dari Kang Ade Bako, warga Desa Pameutingan Cipatujah adanya KJ di daerah tersebut. Kami memang meninggalkan semacam pamflet informasi KJ di daerah yang kami (pre)survey, dengan maksud penyadartahuan sekaligus pendataan laporan penampakan KJ di daerah tersebut. Jika ada warga yang melihat kami harap mereka bersedia membantu pendataan dengan melaporkan keberadaan KJ tersebut pada kami. Laporan Kang Ade ini kemudian hanya bisa kami tampung dulu mengingat jadwal presurvey berikutnya masih harus kami lakukan.

Kami tamu KJ ke tiga: Di Karangjaya Tasikmalaya
KJ Released 3Pada tanggal 21-23 September 2007, kami melakukan pelatihan mandiri standardisasi pendataan KJ. Hari ke dua, kami melakukan praktek survey. Bukannya menemukan KJ kami malah (lagi-lagi) melakukan penyadartahuan & pelepasliaran KJ milik pemburu warga Desa Karangjaya Tasikmalaya.







Tamu Lama, akhirnya: Presurvey & pelepasliaran di Desa Pameutingan Tasikmalaya
KJ Released 4Setelah libur lebaran kami melakukan presurvey III ke dua lokasi: Desa Sarimanggu Karangnunggal & Desa Pameutingan Cipatujah. Lokasi ke dua merupakan lokasi yang pernah kami presurvey yang kemudian dilaporkan kembali oleh warga (Kang Ade Bako) tentang adanya penampakan KJ. Ternyata KJ yang dimaksud beliau sengaja ia tangkap agar begitu kami ke sana ada bukti bahwa KJ tersebut memang benar ada di Desanya (hmm..). KJ tersebut kemudian kami lepasliarkan seperti biasa.
...
Tiada kata selanjutnya (belum mungkin, saya harus cepat-cepat packing kembali ke Bogor), yang pasti kami: KJ & tim ecoadcom memang tamu yang kompak! J Setuju Ya?!!

Saturday, October 20, 2007

Program Pendataan Sebaran Habitat Kukang Jawa (Tasikmalaya-Ciamis)

Penelitian ini adalah kegiatan penelitian (non profit tentunya) yang bertujuan mendata keberadaan kukang jawa (Nycticebus javanicus) dan penyebarannya di Tasikmalaya-Ciamis. Pendataan sebaran habitat kukang jawa ini direkomendasikan oleh BKSDA Jawa Barat dan LIPI, dengan dukungan dana dari Rufford Small Grants Foundation. Pelaksanaan kegiatan dilakukan di daerah Tasikmalaya & Ciamis selama bulan Juli 2007 hingga Agustus 2008 dengan penanggung jawab, saya; Winar, Indah Winarti, mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana Primatologi IPB dengan bimbingan Ibu Wirdateti, M. Si (LIPI), Prof. Hadi S. Alikodra (IPB dan WWF), dan Helga Schulze (Department for Neuroanatomy of Ruhr-University dan Loris Conservation Database).

Kukang Jawa
Kukang jawa terdaftar sebagai satwa dilindungi Pemerintah Indonesia berdasarkan UU Perlindungan No. 66/Kpts/Um/2/1973, SK Menhut 10 Juni 1991 No. 01/Kpts-II/1991, UU No. 5 Th. 1990, dan PP No. 7 th. 1999. Secara internasional, status konservasi kukang jawa ini masuk ke dalam kategori Data Deficient-En A1b (IUCN, 1994), alias kekurangan data populasi dan kondisinya di habitat aslinya di alam dan telah meningkat status Apendiksnya dari Apendiks I menjadi Apendiks II (CITES, 2007).

Dari deretan peraturan dan kategori tersebut kita tentu sudah dapat mengetahui mengapa kukang jawa dilindungi: kukang jawa terancam punah. Kenapa? Karena kurang data-banyak perburuan dan dipiara masyarakat-tempat hidup rusak dan menyempit, penegakan hukum terhadap perlindungannya lemah, dan .... (sebut saja).

Bagi masyarakat pada umumnya, kepedulian terhadap keberadaan satwa ini di alam tidaklah besar. Hal ini dimunkinkan karena banyak hal. Kukang dianggap tidak seeksotis satwa liar lain, seperti orangutan, harimau, atau badak misalnya. Kukang juga sering dikenal masyarakat sebagai satwa lain, seperti panda/koala Irian atau Kuskus. Ketidaktahuan tentang kukang dan kondisinya di alam, membuat perlindungan kukang menjadi lemah. Dan akhirnya diperparah oleh tindakan orang-orang yang mungkin sudah tahu atau benar-benar tidak mau tahu, untuk mendapat keuntungan dari satwa ini sebagai peliharaan.

Mengapa dilakukan pendataan sebaran kukang jawa?
Pertama, informasi kondisi kukang jawa tidak pernah ada, baik sebaran habitatnya maupun populasinya. Penelitian, perhatian konservasi, dan pelaksanaan perlindungan hukum satwa ini sangat-sangat minim sekali.
Kedua, kondisi ini dapat membahayakan status konservasi kukang jawa dari ‘terancam punah’ (status sebelum Kurang Data) menjadi benar-benar ‘punah’, atau dari Apendiks II-Apendiks II. Ketiga, apakah kita akan diam saja seperti kita telah kehilangan badak jawa dan (mungkin) harimau jawa?

Apa yang dapat kita lakukan?
Ayo bergerak bersama, lindungi kukang jawa dari ketiadaan data kepunahan. Program pendataan sebaran kukang jawa merupakan salah satu langkah awal dari sekian langkah-langkah yang dapat kita lakukan.

1) Jika kamu peduli pada kelestarian satwa liar & alam Indonesia, ayo gabung dalam program ini
2) jika kamu senang jalan-jalan ke alam & juga wisata budaya
3) jika kamu senang berhubungan dengan banyak orang
ayo ikut program ini dengan menjadi fasilitator (jalan-jalan, survey kukang jawa, menelitinya, berbagi informasi penyadartahuan, merintis upaya konservasi berbasis masyarakat lokal)


The last, Ingat!
- Jangan pernah memelihara Kukang
- Jangan pernah membelinya (dengan alasan apapun)
- Hubungi kami jika mengetahui informasi keberadaan Kukang jawa
ocescreation@gmail.com, 0265-9144674 (silahkan via SMS), atau langsung maen ke basecamp kami: Jl. Perum Margasari No.77 RT 1 RW 9 Rajapolah Tasikmalaya 46155


ayo!

Wednesday, August 22, 2007

Pre-Survey-- The Story



Kegiatan Penelitian Kukang Jawa baru saja melaksanakan kegiatan perdananya. Sebagai langkah awal telah dilakukan kegiatan Pre-Survey ke beberapa lokasi di Kabupaten Tasikmalaya.
Untuk memilih tempat yang akan disurvey tentu tidak sembarang tunjuk tempat lalu pergi ke sana. Ada dasar-dasar pertimbangan yang dijadikan acuan untuk memilih tempat yang disurvey. Dasar pertimbangan awal hanya berpatokan pada ada tidaknya hutan rakyat dan adanya tegal atau perkebunan. Hal ini berdasarkan fakta dan data bahwa memang ditempat-tempat tersebutlah kukang dapat ditemukan. Berikutnya ditambahkan dengan informasi atau keterangan tentang adanya perjumpaan dengan kukang di daerah tersebut.
Diputuskan untuk melakukan survey dilakukan berurut mulai dari daerah yang terjauh dari basecamp Rajapolah. Sebagai langkah awal dipilih kecamatan Cipatujah sebagai starting pointnya.

The journey


Day 1
16 agustus 2007


Hari pertama dimulai dengan urus mengurus surat pengantar ke BKSDA Ciamis. Sudah dapet surat sakti, langsung tancap ke Cipatujah dan baru berhenti di sebuah mesjid untuk melakukan sholat, kemudian dilanjutkan dengan menyusuri sepanjang pantai Cipatujah ke arah timur. Di desa Cidadap kami berhenti dan bertanya kepada beberapa orang yang berada di sebuah warung pinggir jalan yang berada setelah jembatan batas desa Cidadap dengan desa sebelumnya. Dari warung tersebut didapatkan beberapa informasi mengenai keberadaan muka. Menurut Pak Jana seorang guru SD Desa Cipaingen Sodong Hilir menyebutkan bahwa di daerah Pameutingan dan Kertarajasa terdapat Kukang. Karena hari sudah larut, maka perjalanan dihentikan sementara dan kami beristirahat di ‘Saung’ yang menghadap laut di Pantai Cipatujah

Day 2
17 Agustus 2007
MERDEKA!

Perjalanan hari ke dua dilanjutkan menuju Pameutingan, di tengah perjalanan kami berhenti kembali di sebuah warung pinggir jalan untuk bertanya kembali. Di sana didapatkan informasi bahwa di kampung Pameutingan memang ada Kukang. Ternyata jalan yang kami lalui bukan jalan menuju daerah yang kami tuju, Kami pun putar haluan, berbalik arah dan menyusuri jalur sesuai dengan arah yang ditunjukkan orang-orang di warung itu.
Memasuki Desa Pameutingan, kami berhenti untuk bertanya lokasi keberadaan Kukang. Dari salah seorang informan didapat keterangan kurang lebih satu bulan yang lalu ditemukan Kukang di Pohon Kelapa oleh Jajang penduduk Desa Cadasngampar yang saat itu sedang melakukan penyemprotan hama. Informan menceritakan bahwa Jajang digigit oleh Kukang hingga demam. Dari informasi warga pula didapatkan beberapa nama sebutan Kukang yaitu Aeud, Muka geni, Muka Brahma, Muka, dan Oces. Menurut keterangan warga juga, Kukang sering terlihat melintasi kabel listrik dan 2 ekor Kukang pernah tersengat listrik sampai mati. Perjalanan pun kemudian dilanjutkan untuk mencari rumah Jajang. Setelah bertanya kepada beberapa orang yang berada di sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan Jajang yang kebetulan sedang berada di rumahnya. Jajang menjelaskan bahwa memang benar beberapa minggu kebelakang, tidak lebih dari satu bulan ditemukan Kukang pada siang hari sedang berada di pohon Kawung. Kukang itu kemudian diambil oleh Satim rekan Jajang. Ketika Satim bermaksud mengikat Kukang itu, tiba-tiba Kukang berbalik dan menggigit jari Satim hingga berdarah dan kesakitan. Jajang sempat memukul Kukang tersebut, kemudian dilepaskan di jembatan Citarowek.
Di rumah Jajang tersebut kami bertemu dengan Aep yang menyatakan bahwa sekitar tiga bulan kebelakang Aep juga pernah menemukan Kukang di daerah Sindanglawang di pohon Coklat pada siang hari. Kukang tersebut ditangkap dan dipeliharanya selama dua hari, dan menghilang dari dalam peti dengan sendirinya.
Setelah beristirahat untuk makan siang dan sholat dzuhur di rumah salah seorang warga di daerah tersebut, dilakukan scanning daerah Sindanglawang, dan dilanjutkan scanning Citarowek dibantu oleh Jajang.
Perjalanan dilanjutkan menuju Desa Raksajaya. Di tengah perjalanan, kami bertanya kepada warga di Balangendong. Menurut informasi yang didapat, di Balangendong juga terdapat Kukang yang sering terlihat melintasi kabel listrik dan sekitar jam 8 sering terlihat Kukang yang menyeberang jalan. Scanning desa Balangendong dilakukan saat itu juga. Tim di bagi dua kelompok untuk melakukan penjelajahan daerah sekitar Cipurut, dengan diantar warga. Tapi hanya dilakukan sebentar, karena keadaan sekitar terlalu ribut karena jumlah orang yang melakukan penyusuran yang terlalu banyak.
Malam itu kami bermalam di kediaman Punduh atau kepala kampung setempat.

Day 3
18 Agustus 2007


Pagi hari Pak Ade, salah satu angota tim, melakukan penjelajahan dan berhasil menemukan Kukang yang berada di rumpun Bambu. Ketika kami melihat Kukang tersebut, pada pukul 07.00 Kukang masih terlihat beberapa kali grooming alias membersihkan diri dengan menjilati rambut (bulu)-nya dan membenahi posisi untuk tidur. Kukang tersebut merupakan Kukang dewasa yang tampak rusak mata kanannya dengan beberapa luka di bagian dahi & kaki. Puas mengamati Kukang temuan Pak Ade, kami putuskan untuk menyudahi survey di lokasi ini untuk melakukan perjalanan ke lokasi berikutnya.
Perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Sodong. Akan tetapi ternyata tempat yang kami tuju terlewat (lagi) hingga memasuki daerah Pakuleueur. Dari warga yang ada di sana didapatkan informasi bahwa Kukang pernah ditemukan di daerah tersebut, kurang lebih 2 minngu ke belakang oleh Pak Eman di perkebunan Cengkeh. Di sana juga ada warga yang memelihara Muka. Kami mendatangi rumah Pak Enim yang memelihara Muka, berdasarkan sedikit wawancara yang dilakukan, didapatkan informasi bahwa Pak Enim menangkap Kukang pada siang hari. Kukang diberi makan nasi, Pisang, dan gula oleh Pak Enim. Kukang peliharaan Pak Enim tampak dalam kondisi mengenaskan. Tangan kanannya dalam keadaan terikat. Dan mungkin karena mengikatnya terlalu kencang, daerah tangan yang terikat itu tampak mati. Beberapa dari surveyor merasa miris melihatnya sampai menangis karenanya. Setelah beberapa lama merayu, Pak Enim akhirnya mau melepaskan kembali Kukang itu, setelah sebelumnya tali dibuka terlebih dahulu.
Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Sodong. Kami tiba di rumah Pak Iwa Ulis atau SekDes Sodong Hilir. Menurut beliau di daerah tersebut pernah ditemukan Kukang yang sedang menyeberang jalan. Beres wawancara sebentar dilanjutkan dengan survey pengenalan wilayah dilakukan di lokasi tersebut. Pada malam harinya sekitar jam 19.30 dilakukan penjelajahan lokasi. Bagi sebagian besar anggota tim, Kukang lebih mudah ditemukan pada malam hari karena matanya tampak menyala dalam gelap. Tapi bagi Pak Ade, sang pawang Kukang, mensurvey Kukang siang atau malam sama saja baik alias sama mudahnya. Pada penjelajajahan malam itu, kami menemukan 3 individu Kukang di tempat yang terpisah. Cape, istirahat sebantar, survey kedua dilakukan pada pukul 22.30 dan kembali berhasil menemukan 2 individu Kukang.
Dari keseluruhan survey, mungkin penjelajahan inilah yang paling memuaskan hati, karena berhasil menemukan objek sasaran yang kami cari di habitatnya langsung pada saat jam ‘sibuknya’ dan banyak pula. Puas dengan keberhasilan ini, kami beristirahat menutup penjelajahan ini dengan penuh sukacita.



Day 4
19 Agustus 2007


Perjalanan hari ini dilanjutkan dengah tujuan Mandala, Pusparahayu, Puspahiang. Perjalanan terhenti di Pusparahayu. Menurut keterangan beberapa orang disana pernah ditemukan Kukang beberapa waktu yang lalu. Sekitar 3 tahun yang lalu seorang warga pernah menangkap Kukang dan mengurungnya hingga mati karena tidak diberi makan. Warga yang lain menyebutkan bahwa dirinya pernah sengaja menyembelih Kukang hanya untuk membuktikan mitos bahwa darah Kukang dapat menjadikan "rugrug tanah" (longsor) tapi ternyata tidak. Informan pun sering beranggapan yang sama bahwa Kukang merupakan satwa "gaib" yang sering digunakan oleh orang-orang untuk menghancurkan kejayaan orang yang tidak disenanginya. Bagian tubuh Kukang yang sering digunakan untuk aksi santet ini yaitu darah, dan tulangnya.
Perjalanan dilanjutkan kembali hingga tiba di Salawu. Menurut seorang bapak yang kami temui disana, Kukang mungkin terdapat di Kawungsari, Kutawaringin, dan Tenjowaringin. Setelah beristirahat untuk sholat dan makan, perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di Kutawaringin setelah sebelumnya melewati medan yang cukup berat. Di sana, seperti sebelumnya, kami mencari informasi ke warga setempat. Beberapa warga menyebutkan beberapa kali Kukang dijual di pinggir jalan seharga Rp 15.000,- - Rp 25.000,-. Dari salah satu informan tersebut, bernama Pak Idin Sekmat Cipatujah, juga didapat keterangan bahwa pernah ditemukan Kukang di Cikukulu, Karangnunggal kurang lebih 1 bulan yang lalu, dan di Ciembe kurang lebih 2 bulan yang lalu.
Setelah bertemu dengan Kuwu Kutawaringin, perjalanan dilanjutkan hingga tiba di Kawungsari pada saat maghrib. Kami istirahat sebentar di sana. Setelah Isya, sekitar jam 8 dilakukan penyusuran lokasi selama kurang dari dua jam. Dari penyusuran ini kembali berhasil ditemukan Kukang yang sedang berada di Pohon Hamerang. Dari hasil pengamatan, Kukang yang kami temukan diduga masih juvenil (remaja). Mata kanan Kukang tersebut rusak, sehingga tampak tidak menyala dalam gelap.
Setelah selesai puas menjelajah, kami beristirahat di rumah Pak Kuwu Kawungsari.


And After All

Hampir di semua lokasi yang disurvey, Kukang tidak menjadi pilihan untuk diburu (untuk dipelihara, karena mitos & anggapan bahwa Kukang merupakan penyebab/pertanda musibah) ataupun untuk disingkirkan (dibunuh karena dianggap mengganggu, contoh: Careuh).
Tetapi di semua lokasi juga diperoleh fenomena bahwa tidak diburu/dibunuhnya sang Kukang di lokasi-lokasi tersebut, generasi muda (umur 30 tahun ke bawah) tidak percaya dengan mitos atau kepercayaan apapun. Kukang bagi generasi muda dianggap hewan biasa, yang tampak jinak & unik untuk dipelihara, sehingga menangkap-memelihara-membunuh Kukang dianggap sebagai tindakan biasa saja. Sungguh disayangkan. Seharusnya kesadaran dengan dasar alasan mitos maupun kelestarian itu sendiri, sebaiknya lebih dimiliki oleh generasi muda sebagai penerus bangsa & alam ini. Tetapi lagi, semoga kesimpulan sementara kami ini tidaklah benar. Semoga di lokasi selanjutnya, Kukang & generasi muda merupakan partner yang bersahabat.

Survey selanjutnya akan kami lakukan tanggal 27 Agustus 2007 mendatang, Insya Allah. Kami sungguh sangat bersemangat menjelajah alam untuk ikut sekedar ‘berbuat’ hal lebih bagi kelestarian Kukang. Dengan segala keterbatasan sarana-prasarana & medan yang kami hadapi, Kami selalu bersemangat! Doakan kami ya... !!!

Tuesday, July 10, 2007

Kukang Jawa The Foreword

Siapa Kukang Jawa?

Siapa tak kenal kucing & panda. Keduanya merupakan hewan imut & menggemaskan yang akrab yang bisa kita gendong & peluk (kucing & boneka panda maksudnya). Coba bayangkan, panda yang coklat putih, bukan hitam putih, yang agak-agak kurus seperti kucing, bukan bulet gendut. Bayangkan juga matanya yang bulat belo (bulat besar, bolotot (Sunda)) dengan lingkaran hitam, tapi yang ini lingkarannya coklat tua & ada tangkai yang menggaris ke arah dahi terus hingga punggung. Susah? Ya udah, coba lihat gambar di (akhir, di mana, nyumput) ini. Sudah mirip belum? :-D



Beberapa dari kita mungkin sudah pernah melihatnya, tapi mungkin dengan nama berbeda. Kuskus? Koala Irian? Panda Irian? Bukan, bukan, salah itu! Sahabat kita yang ‘baru tapi lama’ ini bernama Kukang. Orang Sunda mengenalnya sebagai Muka, Malu-malu, atau Oces. Katanya si K ini lebih suka nyumput alias menyembunyikan muka dengan tangan alias kaki depannya. Matanya menyala dalam gelap seperti juga kucing, dan selalu melangkah dengan pelan....sekali seperti malas. Tetapi perjumpaan pertamanya bisa langsung membuat kita jatuh hati karena gemas ingin menggendong & mengelusnya. Andai si K senang digendong & dielus-elus. Sayangnya si K itu bukan hewan jinak (meski tampak begitu, penampilan bisa menipu toh?!), dia hewan liar yang lebih suka menggulung diri, menyembunyikan mukanya, menghindar dari manusia.


Si K yang kelihatan bergerak malas & lamban ini sebenarnya punya taring yang katanya bisa menyalurkan ludahnya yang beracun bagi siapa saja yang mengganggu. Saudara-saudara si K yang telah menjadi peliharaan adalah hewan-hewan yang tidak mujur. Mereka lebih dahulu ketakutan setengah mati & tersiksa saat diculik dari rumah pohonnya, untuk kemudian penangkap atau pedagang akan memotong taringnya agar tidak membahayakan majikanya. Kasihan. Ini suatu bukti bahwa si K bukanlah hewan piaraan yang aman.

Dimana rumahnya?



Oh ya sebelum kita maen ke rumah atau habitat alias tempat hidupnya, mari kita kenal dahulu siapa sebenarnya si K ini. Meski terlihat mirip panda, kuskus, atau kucing, K bukanlah bangsa panda, kuskus, ataupun bangsa kucing. Dia justru tergolong sebagai bangsa primata bersama-sama dengan monyet & kera. Lho?! Iya, K merupakan keluarga monyet & kera yang kata para ahli paling primitif. Kenapa disebut demikian karena dibanding anggota primata lainnya yang lincah & pintar, K justru lamban karena bentuk tangan & matanya yang unik yang membuat dia tampak terlihat bodoh. Tampangnya sih memang tampak demikian memelas, tetapi sebenernya K punya otak yang relatif lebih besar yang menjadikannya lebih pintar daripada bangsa-bangsa hewan lain).

Ada 4 anggota bangsa primata yang tinggal di Indonesia; orangutan, owa, monyet, dan kukang. Di pulau Jawa yang luas hutannya justru paling sempit se-Indonesia, hidup tiga jenis monyet, satu kera, & satu pra-primata/prosimian. Mereka berlima terdiri dari monyet ekor panjang, lutung, surili, owa jawa, & kukang jawa. Si K ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, & beberapa kepulauan di Indonesia. Si K yang tinggal di pulau jawa jenisnya beda dengan keluarga K di pulau lain. Kita sebut saja dia KJ, si kukang jawa.


KJ tinggal di pepohonan & rumpun bambu di hutan-hutan kecil di Jawa. Di Sumedang, KJ dapat ditemui di kebun yang semi hutan, yang banyak rumpun bambu, & biasanya jarang diurus & dikunjungi manusia (Winarti, 2003). Kebun yang seperti ini dapat ditemui di semua daerah di Jawa Barat dengan sebutan Talun (Sunda). Letak talun biasanya agak dekat pemukiman atau tepi hutan alam. Di talun biasanya banyak hewan-hewan liar seperti musang bulan atau careuh (Paradoxurus javanicus), berbagai jenis burung, bajing, ular, dan tentunya kadal-cicak-tokek, kodok, serangga-kupu-kupu, & tentunya KJ.
Dalam kesehariannya, KJ makan buah-buahan, getah, air nira, nektar, cicak, & serangga yang berlimpah di talun. Hewan-hewan liar talun seperti KJ & careuh ini juga berperan sebagai penyebar biji-bijian tumbuhan, sehingga atas jasa mereka talun bisa tetap hijau. KJ & para penghuni talun lainnya mempunyai peran yang penting dalam keberlangsungan proses rantai makanan yang seimbang sehingga kelestarian alam tetap dapat terjaga. Selain dapat mengambil hasil talun berupa kayu, bambu dan buah-buahan, talun yang semi hutan akan dapat memberi manfaat bagi kita berupa kesejukan udara & cadangan air untuk daerah sekitarnya. Thanx to KJ n friends.


Kenapa KJ harus ditolong

Dari lima jenis primata jawa, KJ-lah satu-satunya yang primitif dan satu-satunya yang beraktivitas di malam hari (istilahnya nokturnal, untuk hewan yang aktif pada malam hari & tidur di siang hari). KJ pun dapat ditemukan hidup di hutan-hutan kecil yang dekat dengan kebun-kebun kita. Walaupun demikian keberadaanya sama sekali tidak mengganggu tanaman kebun. KJ & hewan-hewan hutan atau talun justru memberi manfaat besar bagi kita sehubungan dengan peran mereka sebagai bagian dari komponen penyeimbang kehidupan.
KJ adalah hewan liar yang unik & mulai langka karena sering diburu & habitatnya rusak. Kondisi ini pula yang menyebabkan KJ dilindungi oleh pemerintah agar tidak diburu ataupun dipelihara. Menurut IUCN-organisasi internasional pemerhati flora-fauna, informasi mengenai keluarga KJ tergolong minim data (Data Deficient); & menurut CITES-konvensi internasional pemerhati perdagangan hewan liar tergolong Apendiks II artinysa boleh diambil dari alam dengan syarat & ketentuan tertentu.


Bagaimana kondisi KJ di alam di Jawa? Sampai saat ini belum ada penelitian & bukti yang mengatakan mereka masih banyak. Padahal jika kita tidak menutup mata, KJ masih sering dijual di tempat penjualan hewan peliharaan. KJ banyak diburu dari alam untuk ini. Kita tidak tahu pasti bagaimana kondisi KJ di alam, tapi kita bisa tahu dengan melihat jumlah KJ yang banyak jadi peliharaan berarti telah mengurangi jumlah KJ di alam, sangat!
Berapa jumlah KJ sekarang, ada di daerah mana saja, apakah mereka dapat bertahan hidup & tidak punah, kita tidak tahu. Dengan kondisi hutan Pulau Jawa yang sempit, kecil-kecil, serta banyak yang rusak ditebangi, apakah KJ masih akan dapat hidup & berkembang biak? Semoga iya, agar tidak mati punah seperti badak jawa & harimau jawa. Semoga.


Ayo lestarikan KJ !

Kalau mengingat lucunya KJ bawaanya kita pengin memelihara. Tapi coba ingat betapa bahagianya kita bisa tinggal nyaman di rumah, tentu KJ juga. Kita masih dapat belajar & beraktifitas dengan baik jika kita berada dalam kondisi sehat & enak di lingkungan kita, KJ juga. Dia harus makan & hidup sehat agar dapat berperan bagi habitat/tempat tinggal alaminya. Kita harus sadar bahwa udara sehat & air yang segar ini ada karena masih ada tumbuhan di sekitar kita yang dibantu penyebarannya oleh hewan-hewan liar. Kita harus lindungi tumbuhan & habitat hewan.

Jika kondisi habitat atau tempat hidup kukang yang di Jawa sudah yang banyak rusak & hilang, bagaimana KJ bisa tetap hidup & memberi manfaat bagi kita?
Teman-teman jangan pernah pelihara KJ ya...! KJ lebih senang tinggal di habitat alaminya. Jika kita memelihara satu ekor KJ saja, coba bayangkan berapa tumbuhan yang bergantung penyebaran hidupnya pada hewan imut ini. Sebagai peliharaan, karena KJ adalah bangsa primata (sebangsa dengan monyet & kera), dia lebih mudah menularkan & ditulari penyakit. Untuk dapat teman-teman timang & sayang-sayang, KJ harus ketakutan & tersiksa saat diburu & dipotong taringnya. KJ bukan hewan peliharaan, dia hewan liar yang dilindungi. Memelihara KJ berarti melanggar hukum. Masih ingin memelihara KJ? Say No! Biarkan KJ hidup di habitat alaminya. Ayo kita lindungi habitatnya!

Siapa Kukang Jawa?

Materi Dasar Mengenal KUKANG JAWA
Siapa Kukang Jawa (kuja)? Siapa tak kenal kucing & panda. Keduanya merupakan hewan imut & menggemaskan yang akrab yang bisa kita gendong & peluk (kucing & boneka panda maksudnya). Coba bayangkan, panda yang coklat putih, bukan hitam putih, yang agak-agak kurus seperti kucing, bukan bulet gendut. Bayangkan juga matanya yang bulat belo (bulat besar, bolotot (Sunda)) dengan lingkaran hitam, tapi yang ini lingkarannya coklat tua & ada tangkai yang menggaris ke arah dahi terus hingga punggung. Susah? Ya udah, coba lihat gambar di (akhir, di mana, nyumput) ini. Sudah mirip belum? :-D
Beberapa dari kita mungkin sudah pernah melihatnya, tapi mungkin dengan nama berbeda. Kuskus? Koala Irian? Panda Irian? Bukan, bukan, salah itu! Sahabat kita yang ‘baru tapi lama’ ini bernama Kukang. Orang Sunda mengenalnya sebagai Muka, Malu-malu, atau Oces. Katanya kukang lebih suka nyumput alias menyembunyikan muka dengan tangan alias kaki depannya. Matanya menyala dalam gelap seperti juga kucing, dan selalu melangkah dengan pelan....sekali seperti malas. Tetapi perjumpaan pertamanya bisa langsung membuat kita jatuh hati karena gemas ingin menggendong & mengelusnya. Andai kukang senang digendong & dielus-elus. Sayangnya kukang bukanlah hewan jinak (meski tampak begitu, penampilan bisa menipu toh?!), dia hewan liar yang lebih suka menggulung diri, menyembunyikan mukanya, menghindar dari manusia.

Si Kukang yang kelihatan bergerak malas & lamban ini sebenarnya punya taring yang katanya bisa menyalurkan ludahnya yang beracun bagi siapa saja yang mengganggu. Saudara-saudara kukang yang telah menjadi peliharaan adalah hewan-hewan yang tidak mujur. Mereka lebih dahulu ketakutan setengah mati & tersiksa saat diculik dari rumah pohonnya, untuk kemudian penangkap atau pedagang akan memotong taringnya agar tidak membahayakan majikanya. Kasihan. Ini suatu bukti bahwa kukang bukanlah hewan piaraan yang aman.
Dimana Rumahnya? (rumah=habitat)
Oh ya sebelum kita maen ke rumah atau habitat alias tempat hidupnya, mari kita kenal dahulu siapa sebenarnya si kukang ini. Meski terlihat mirip panda, kuskus, atau kucing, kukang bukanlah bangsa panda, kuskus, ataupun bangsa kucing. Dia justru tergolong sebagai bangsa primata bersama-sama dengan monyet & kera. Lho?! Iya, kukang merupakan keluarga monyet & kera yang kata para ahli paling primitif. Kenapa disebut demikian karena dibanding anggota primata lainnya yang lincah & pintar, kukang justru lamban karena bentuk tangan & matanya yang unik yang membuat dia tampak terlihat bodoh. Tampangnya sih memang tampak demikian memelas, tetapi sebenernya kukang punya otak yang relatif lebih besar yang menjadikannya lebih pintar daripada bangsa-bangsa hewan lain).
Ada lima anggota bangsa primata yang tinggal di Indonesia; orangutan, owa, monyet, tarsius, dan kukang. Di pulau Jawa yang luas hutannya justru paling sempit se-Indonesia, hidup tiga jenis monyet, satu kera, & satu pra-primata/prosimian. Mereka berlima terdiri dari monyet ekor panjang, lutung, surili, owa jawa, & kukang jawa. Kukang ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, & beberapa kepulauan di Indonesia. Kukang yang tinggal di pulau jawa jenisnya beda dengan keluarga kukang di pulau lain. Kita sebut saja dia kuja, si kukang jawa.
Kuja tinggal di pepohonan & rumpun bambu di hutan-hutan kecil di Jawa. Di Sumedang, kuja dapat ditemui di kebun yang semi hutan, yang banyak rumpun bambu, & biasanya jarang diurus & dikunjungi manusia (Winarti, 2003). Kebun yang seperti ini dapat ditemui di semua daerah di Jawa Barat dengan sebutan Talun (Sunda). Letak talun biasanya agak dekat pemukiman atau tepi hutan alam. Di talun biasanya banyak hewan-hewan liar seperti musang bulan atau careuh (Paradoxurus javanicus), berbagai jenis burung, bajing, ular, dan tentunya kadal-cicak-tokek, kodok, serangga-kupu-kupu, & tentunya kuja. Dalam kesehariannya, kuja makan buah-buahan, getah, air nira, nektar, cicak, & serangga yang berlimpah di talun. Hewan-hewan liar talun seperti kuja & careuh ini juga berperan sebagai penyebar biji-bijian tumbuhan, sehingga atas jasa mereka talun bisa tetap hijau. Kuja & para penghuni talun lainnya mempunyai peran yang penting dalam keberlangsungan proses rantai makanan yang seimbang sehingga kelestarian alam tetap dapat terjaga. Selain dapat mengambil hasil talun berupa kayu, bambu dan buah-buahan, talun yang semi hutan akan dapat memberi manfaat bagi kita berupa kesejukan udara & cadangan air untuk daerah sekitarnya. Thanx to kuja n friends.
Kenapa Kukang Jawa harus ditolong?
Dari lima jenis primata jawa, kuja-lah satu-satunya yang primitif dan satu-satunya yang beraktivitas di malam hari (istilahnya nokturnal, untuk hewan yang aktif pada malam hari & tidur di siang hari). Kuja pun dapat ditemukan hidup di hutan-hutan kecil yang dekat dengan kebun-kebun kita. Walaupun demikian keberadaanya sama sekali tidak mengganggu tanaman kebun. Kuja & hewan-hewan hutan atau talun justru memberi manfaat besar bagi kita sehubungan dengan peran mereka sebagai bagian dari komponen penyeimbang kehidupan. Kuja adalah hewan liar yang unik & mulai langka karena sering diburu & habitatnya rusak. Kondisi ini pula yang menyebabkan kuja dilindungi oleh pemerintah agar tidak diburu ataupun dipelihara. Menurut IUCN-organisasi internasional pemerhati flora-fauna, informasi mengenai keluarga KJ tergolong terancam punah (ENDANGERED); & menurut CITES-konvensi internasional pemerhati perdagangan hewan liar tergolong Apendiks I artinya TIDAK boleh diambil dari alam kecuali untuk keperluan ilmu pengetahuan.
Bagaimana kondisi kuja di alam di Jawa?
Sampai saat ini belum ada penelitian & bukti yang mengatakan mereka masih banyak. Padahal jika kita tidak menutup mata, KJ masih sering dijual di tempat penjualan hewan peliharaan. Kuja banyak diburu dari alam untuk ini. Kita tidak tahu pasti bagaimana kondisi kuja di alam, tapi kita bisa tahu dengan melihat jumlah kuja yang banyak jadi peliharaan berarti telah mengurangi jumlah kuja di alam, sangat! Berapa jumlah kuja sekarang, ada di daerah mana saja, apakah mereka dapat bertahan hidup & tidak punah, kita tidak tahu. Dengan kondisi hutan Pulau Jawa yang sempit, kecil-kecil, serta banyak yang rusak ditebangi, apakah kuja masih akan dapat hidup & berkembang biak? Semoga iya, agar tidak mati punah seperti badak jawa & harimau jawa. Semoga.
Ayo lestarikan kukang jawa
Kalau mengingat lucunya kuaj bawaanya kita pengin memelihara. Tapi coba ingat betapa bahagianya kita bisa tinggal nyaman di rumah, tentu kuja juga. Kita masih dapat belajar & beraktifitas dengan baik jika kita berada dalam kondisi sehat & enak di lingkungan kita, kuja juga. Dia harus makan & hidup sehat agar dapat berperan bagi habitat/tempat tinggal alaminya. Kita harus sadar bahwa udara sehat & air yang segar ini ada karena masih ada tumbuhan di sekitar kita yang dibantu penyebarannya oleh hewan-hewan liar. Kita harus lindungi tumbuhan & habitat hewan.
Jika kondisi habitat atau tempat hidup kukang yang di Jawa sudah yang banyak rusak & hilang, bagaimana kuja bisa tetap hidup & memberi manfaat bagi kita? Teman-teman jangan pernah pelihara kuja ya...! Kuja lebih senang tinggal di habitat alaminya. Jika kita memelihara satu ekor kuja saja, coba bayangkan berapa tumbuhan yang bergantung penyebaran hidupnya pada hewan imut ini. Sebagai peliharaan, karena kuja adalah bangsa primata (sebangsa dengan monyet & kera), dia lebih mudah menularkan & ditulari penyakit. Untuk dapat teman-teman timang & sayang-sayang, kuja harus ketakutan & tersiksa saat diburu & dipotong taringnya. Kuja bukan hewan peliharaan, dia hewan liar yang dilindungi. Memelihara kuja berarti melanggar hukum. Masih ingin memelihara Kuja? Say No! Biarkan kuja hidup di habitat alaminya. Ayo kita lindungi habitatnya!